BEKASI, Realita.online, Jumat, 4 September 2026 – PC PMII Kabupaten Bekasi mengapresiasi program Beasiswa Pasti Pintar / Banpin 2026 yang digulirkan Pemkab Bekasi. Namun organisasi mahasiswa ini mendesak kuota penerima ditambah karena tingginya animo pendaftar.
Pada 2026, tercatat 3.438 mahasiswa mendaftar Banpin. Sementara kuota yang disediakan hanya 100 orang.
Apresiasi Sekaligus Catatan Kritis, Ketua PC PMII Kabupaten Bekasi, Irfan Sahidan, menyebut Banpin sebagai program strategis Pemkab untuk meningkatkan kualitas SDM.
“Kami mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Bekasi, khususnya Plt. Bupati dan jajaran terkait, yang telah menghadirkan program Banpin. Ini program yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Irfan di Kompleks Pemkab Cikarang Pusat, Jumat (4/9/2026).
Namun Irfan menyoroti kesenjangan besar antara peminat dan kuota.
“3.438 pendaftar dengan kuota 100 menunjukkan kebutuhan pembiayaan pendidikan tinggi masih sangat besar. Ini harus menjadi bahan evaluasi dan dasar pemerintah untuk memperluas program,” tegasnya.
PMII mengapresiasi wacana Pemkab untuk menaikkan kuota Banpin menjadi 200 mahasiswa pada 2027. Meski belum sepenuhnya menjawab kebutuhan, langkah itu dinilai positif.
“Kami berharap penambahan kuota dilakukan bertahap sesuai kemampuan fiskal daerah. Tapi arahnya harus jelas: memperluas akses,” kata Irfan.
Ia juga menekankan pentingnya proses seleksi yang transparan, objektif, dan tepat sasaran agar bantuan benar-benar sampai ke mahasiswa yang membutuhkan.
Banpin Disebut Investasi SDM:
Menurut Irfan, penguatan Banpin sejalan dengan RPJMD Kabupaten Bekasi 2024–2029 khususnya misi membangun SDM berkualitas dan berdaya saing.
Sebagai kawasan industri terbesar di Asia Tenggara, Kabupaten Bekasi butuh lulusan lokal yang kompeten.
“Banpin jangan hanya dilihat sebagai bantuan pendidikan, tetapi sebagai investasi pembangunan manusia. Kami berharap kuotanya terus ditingkatkan,” pungkasnya.
Dengan jumlah pendaftar yang terus naik setiap tahun, PMII menilai perluasan Banpin bukan lagi opsi, tapi kebutuhan mendesak agar tidak ada mahasiswa potensial yang terhenti kuliah karena masalah biaya.
Affandi










