CIKARANG PUSAT, Realita1.Online, Sabtu 18 Oktober 2026 – Heru Budiman | Mantan Jurnalis Koran Harian Karawang Bekasi Ekspres (KBE) – Jawa Pos Group.
“Saya masih ingat betul suara motor Honda Win butut itu”
Tahun 2006, bensin eceran masih Rp4.500. Bekal saya hanya tas kecil berisi buku catatan, tape recorder, dan kamera saku. Menyisir Kabupaten Bekasi dari ujung ke ujung, dari terik yang membuat baju basah kuyup oleh keringat.
Dari Cikarang yang bising oleh mesin pabrik, hingga Muaragembong yang jalan lumpurnya menelan ban motor sampai setengah roda.
20 tahun berlalu, saya kembali menatap peta yang sama dan sadar: Kabupaten Bekasi ternyata tidak pernah berubah. Ia tetap hidup dengan dua wajah. Dan saya melihat keduanya dengan mata kepala sendiri.
WAJAH PERTAMA: SELATAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR
Namanya Cikarang. Tambun. Deltamas.
Di sini, jam 2 pagi pun lampu pabrik tidak pernah padam. Deru forklift, sirene pergantian shift malam, dan antrean truk kontainer yang mengular ke Tol Jakarta-Cikampek adalah musik sehari-hari.
Ini bukan sekadar kawasan industri. Ini adalah jantung industri Asia Tenggara. Jababeka, MM2100, EJIP, Delta Silicon, GIIC – nama-nama yang dulu hanya saya tulis sebagai press release, kini telah menjadi raksasa global.
Datanya tidak main-main. Data Pemprov Jabar mencatat investasi Kabupaten Bekasi pada 2025 menembus Rp81,84 triliun, tertinggi di Jawa Barat. Hanya di Triwulan III saja sudah Rp61,78 triliun.
Tapi di balik angka triliunan yang memabukkan itu, pertanyaan lama saya sebagai kuli tinta lapangan masih mengganjal dan belum terjawab sampai hari ini:
Berapa banyak anak muda Babelan yang benar-benar menjadi operator di pabrik itu? Berapa banyak ibu-ibu di Sukatani yang warungnya laku karena ada kawasan industri raksasa di sebelahnya?
WAJAH KEDUA: UTARA YANG SETIA MENUNGGU
Lalu saya tarik gas motor itu 40 kilometer ke utara. Menjauh dari hiruk pikuk.
Sukatani, Sukakarya, Cabangbungin, Babelan, Tarumajaya, hingga Muaragembong.
Tidak ada lagi suara mesin. Yang ada hanya hamparan sawah menguning seluas mata memandang, tambak bandeng yang airnya keemasan saat senja, dan hutan mangrove yang akarnya mencengkeram kuat lumpur pesisir, menahan abrasi dan rob.
Di sinilah saya pernah mendorong motor karena banjir rob setinggi lutut. Petani mengeluh irigasi dari Bendung Srengseng Hilir mampet, nelayan mengeluh tangkapan turun.
Muaragembong bukan sekadar titik di peta. Ia adalah lumbung pangan Bekasi. Ia adalah paru-paru pesisir. Namun selama ini, ia hanya menjadi catatan kaki dalam setiap rapat pembangunan di Cikarang Pusat.
Padahal di perut bumi utara, ada denyut kekayaan lain yang jarang dibicarakan: sumur minyak Babelan, Gabus, Muaragembong, dan cadangan gas Blok Jatirarangon. Bekasi itu kaya, tidak hanya dari pabrik, tapi dari bumi dan lautnya sendiri.
DI TENGAH: CIKARANG PUSAT YANG MEMIKUL BEBAN
Di antara dua wajah yang timpang itu, ada Cikarang Pusat – Kota Deltamas.
Dulu tempat ini sepi dan gelap. Sekarang berdiri megah Kantor Bupati, AEON Mall, pusat pemerintahan, kampus, dan rumah sakit.
Ia dilahirkan untuk menjadi penengah. Menjadi jembatan yang menyatukan deru mesin di selatan dengan desir angin di utara.
Bukan tugas mudah. Tapi di sinilah sesanti Swatantra Wibawa Mukti diuji. Mampu mengurus rumah tangganya sendiri, berwibawa, dan makmur.
Makmur yang seperti apa? Itu pertanyaan kuncinya.
ENAM KEISTIMEWAAN, SATU HARAPAN
Dari catatan lapangan bertahun-tahun dan data resmi, Kabupaten Bekasi sesungguhnya memiliki enam keistimewaan yang tidak dimiliki daerah lain:
1. Raksasa Industri: Magnet investasi global, penyumbang PDRB terbesar.
2. Lumbung Pangan Utara: Sawah, tambak, dan mangrove Muaragembong yang wajib dijaga sebagai ketahanan pangan.
3. Energi & SDA: Minyak dan gas yang harus dikelola transparan untuk rakyat, bukan hanya untuk laporan.
4. Kota Modern: Cikarang Pusat harus membangun transportasi publik dan ruang publik yang manusiawi, bukan hanya mal.
5. CSR yang Jujur: Di era Plt Bupati Asep Surya Atmaja, ada gagasan Gerak CSR Solid. Saya setuju. Asal jangan hanya jadi spanduk. Petakan kebutuhan riil desa, ukur manfaatnya, utamakan beasiswa, keterampilan warga lokal, UMKM, dan pesisir.
6. Wisata yang Manusiawi: Jembatan Cinta Tarumajaya, Alun-alun Setu, Karang Kitri Bojongmangu. Jangan jadikan warga hanya tukang parkir. Jadikan mereka tuan rumah yang sejahtera.
CATATAN AKHIR DARI MANTAN KULI TINTA
Data SIDANTA Semester I 2026 mencatat 3.508.296 jiwa tinggal di Kabupaten Bekasi. Laki-laki 1.772.276, perempuan 1.736.020. Ini adalah modal besar, juga tanggung jawab besar.
“APBD 2025 sekitar Rp7,6 triliun, dengan PAD Rp4,1 triliun. Artinya, lebih dari setengah uang Bekasi dihasilkan sendiri. Kita mandiri secara fiskal. Ini hebat,”
Namun bagi dirinya yang pernah tidur di pos ronda Muaragembong sambil menunggu air rob surut, ukuran keberhasilan pemerintahan bukan di atas kertas APBD.
Ukurannya sangat sederhana dan membumi: Apakah uang Rp7,6 triliun itu sampai ke jalan berlubang di Sukatani?
Apakah sampai ke atap kelas yang bocor di Muaragembong?
Apakah sampai ke antrean panjang pasien di Puskesmas Babelan?
Kabupaten Bekasi punya semua modal: industri di selatan, pangan di utara, dan pusat pemerintahan di tengah.
Yang ia butuhkan hanya satu: Satu kabupaten, satu arah pembangunan.
Heru juga mengatakan, Dari industri untuk peradaban. Dari utara hingga selatan, pembangunan harus menghadirkan kesempatan yang sama.

“Itulah makna sejati Swatantra Wibawa Mukti, daerah yang mandiri, bermartabat, dan makmur bersama-sama. Bukan makmur sebagian,”pungkasnya.
Red”*










